Serangan di Nigeria Tewaskan 13 Orang Kristen


Kurang dari dua minggu setelah penyerangan besar-besaran di Nigeria yang menewaskan 5000 umat Kristen dan peternak Muslim Fulani, kekerasan yang sama—bahkan jauh lebih mencekam—kembali terjadi pada Rabu (17/3) dan menimpa dua permukiman Kristen di negara bagian Plateau. Akibat serangan tersebut, 13 orang tewas termasuk anak-anak dan seorang wanita hamil.

Penyerangan tersebut diduga dipicu oleh sengketa properti yang diimbuhi dengan motivasi jihad—termasuk dalam metode dan karateristik—yakni di mana para pelaku menyamar dengan menggunakan seragam militer dan pakaian adat, juga membakar 20 rumah di desa Byei dan Baten.

Umat Kristen yang tinggal di sekitar tempat kejadian perkara, kini dilanda ketakutan akan kemungkinan serangan lanjutan yang dilakukan oleh peternak Muslim. Apalagi, sampai saat ini, belum ada tindakan dari pihak militer maupun pihak kepolisian untuk melindungi umat Kristen maupun mencegah berulangnya tindak kekerasan.

Umat Kristen dari etnis Berom, yang hidup sebagai petani, telah lama berhadapan dengan kaum nomaden Fulani yang menggembalakan ternak di wilayah Berom.

Pembantaian itu serupa dengan penyerangan pada 7 Maret kemarin di Dogo Nahawa, Zot, dan Rastat—tiga desa yang terletak di Jos Selatan dan Wilayah Lokal Pemerintah Barkin Ladi—di mana ratusan penghuni desa dipukul dengan parang dan dibakar sampai mati.

“Para pelaku penyerangan menggunakan senjata berbahaya, dan melakukan secara serempak aksi kekerasan tersebut pada Rabu, 17 Maret, sekitar pukul 1 siang,” jelas Brigjen Donald Oji dalam pernnyataan pers, sebagaimana dikutip Christian Post.

“Tujuh dari pelaku penyerangan telah ditangkap, berikut perlengkapan senjata yang mencakup tiga senapan peluru pendek buatan lokal, busur dan anak panah, parang, pisau, dan pedang pendek.”

Gubernur Jonah Jang juga mengecam tindakan pembunuhan tersebut dan mengatakan bahwa para pelaku telah memicu kesalahpahaman di antara komunitas beragama di Nigeria. Ini karena, metode pembantaian tersebut serupa dengan apa yang kerap dilakukan oleh kaum jihad fundamentalis.

Dalyop Nyango Mandung, yang luput dari serangan tersebut, mengaku bahwa ibu kandungnya, Ngo Hwo Dongo, 90 tahun, tewas di kamarnya akibat serangan tersebut.

“Aku mendengar bunyi letusan senjata dari para peternak Muslim, yang memborbardir rumah para penghuni desa,” kenang Mandung. “Kami melihat sebagian mereka mengenakan seragam militer, dan sisanya mengenakan pakaian adat,” katanya seraya menambahkan bahwa ibunya adalah satu-satunya korban tewas dalam serangan tersebut.

Seorang korban serangan lainnya, Kachollom Pam Dadua, yang tengah mengandung, mengatakan kepada wartawan lokal bahwa ia beruntung dapat bertahan hidup.

“Para plaku mulanya menyerang dengan senjata, dan tak lama kemudian peternak Fulani mulai menganiaya orang-orang dengan golok,” ujar Dadua.

“Aku lalu naik ke atas rumah dan berpegangan pada pohon. Itu sangat menyakitkan apalagi karena aku tengah mengandung. Aku melihat para pelaku membunuh dua saudari iparku, Chundung dan Kangyang—mereka tidak berhasil melarikan diri. Aku melihat dengan mata kepala sendiri tatkala mereka dibantai dan dibunuh,” keluh Dadua sambil menambahkan bahwa ia tidak berani bergerak sedikit pun lantaran takut akan menarik perhatian para pelaku.

“Setelah mereka membunuh dua saudari iparku, mereka duduk di halaman belakang dan mengancam akan kembali datang untuk menghabiskan para penghuni desa lainnya.” Terang Dadua. “Aku melihat dua pasukan militer, mereka berbicara dalam bahasa Inggris. Sedangkan ada lebih dari 20 kaum Fulani. Ketika mereka pergi, paman suamiku, Yohannya, datang dan menangis sambil berkata: ‘Mereka telah membunuh orang-orang di desa berikutnya.’”

Pada penyerangan 7 Maret, korban dari etnis Berom juga mecakup banyak perempuan dan anak-anak yang tewas karena sabetan parang kaum peternak Fulani. Sekitar 75 rumah hangus terbakar, dan 500 orang diperkirakan tewas dalam serangan tersebut.

Seorang pemuka Kristen setempat, mengatakan bahwa dalam serangan 7 Maret tersebut, para pelaku meneriakkan kata “Allah Akbar” sembari menerobos masuk ke dalam rumah dan membantai para lelaki, wanita, dan dan anak-anak.

Gubernur Jang mengatakan bahwa serangan ini menantang setiap orang untuk bertahan. “Saya memiliki kepercayaan penuh terhadap Tuhan karena saya adalah seorang anak Allah; dan karena saya tahu bahwa Allah mengetahui apa pun yang terjadi pada anak-anakNya. Saya telah berdoa kepada Tuhan, meminta pengampunan atas apa yang telah terjadi di Plateau.

Sumber : GLMINISTRY.COM

0 comments:

Post a Comment